Rabu, 02 Mei 2018

CULTURE SHOCK (Kejutan/kekagetan Budaya)


CULTURE SHOCK (Kejutan/kekagetan Budaya)

Definisi Culture Shock
Istilah culture shock awalnya terdokumentasi dalam jurnal medis sebagai penyakit yang parah (berpotensi hilangnya nyawa seseorang), yang diperoleh individu saat ia secara tiba-tiba dipindah ke luar negri. Definisi Adler (1975) lebih menekankan bahwa culture shock adalah suatu rangkaian reaksi emosional sebagai akibat dari hilangnya penguatan (reinforcement) yang selama ini diperoleh dari kebudayaan yang lama, diganti dengan stimulus dari kebudayaan baru yang terasa asing, dan karena adanya kesalahpahaman pada pengalaman yang baru dan berbeda. Perasaan ini mungkin meliputi rasa tak berdaya, mudah tersinggung, perasaan takut bahwa orang lain akan berbuat curang padanya karena ketidaktahuannya, perasaan terluka dan perasaan diabaikan oleh orang lain.

Gejala Culture Shock
Gejala munculnya culture shock berbeda-beda antara satu orang dengan yang lain. Namun ada beberapa yang biasanya ditunjukkan individu saat mengalami culture shock, yaitu antara lain :
-  Perasaan sedih, kesepian, melankolis, merasa frustasi, kemarahan, kecemasan, disorientasi
- Menderita rasa sakit di berbagai areal tubuh, muncul berbagai alergi, serta gangguan-gangguan kesehatan lainnya, seperti diare, maag, sakit kepala dll.
- Perasaan marah, mudah tersinggung, penyesalan, tidak bersedia untuk berinteraksi dengan orang lain
- Selalu membanding-bandingkan budaya asalnya, mengidolakan kebudayaan asal secara berlebih

Faktor munculnya  Culture Shock

Chapdelaine (2004) mencatat paling tidak terdapat empat pendekatan dalam menjelaskan fenomena culture shock. Pendekatan ini meliputi pendekatan:
1. Pendekatan Kognitif           
2. Pendekatan prilaku
3. pendekatan Fenomenalogis
4. Pendekatan sosiopsikologis



Penyesuaian psikologis/afektif : ketidaksamaan kultur antara kultur asal dan kultur di tempat baru menimbulkan perasaan asing, perasaan kesepian, rasa keterhilangan di tempat yang baru bagi dirinya.

Penyesuaian sosial: Dalam hal ini, culture shock terjadi karena individu tidak memiliki pemahaman budaya yang cukup untuk ia dapat berinteraksi dengan baik dengan warga lingkungan baru. Individu juga memiliki identitas kultur yang begitu besar sehingga menyulitkannya untuk beradaptasi dengan kultur yang baru.

Contoh Culture shock       

ketika mahasiswa Indonesia yang mendapat beasiswa study di Paris, mereka akan sangat merasa kurang nyaman melihat perilaku-perilaku mesra para lesbi dan gay yang ditunjukan secara vulgar di sekitarnya. Perasaan kaget yang timbul terhadap pasangan homogen tersebut di karenakan di Indonesia sendiri, komunitas marginal lebih tertutup dan mendapat perlakuan diskriminatif oleh banyak pihak di Indonesia. Sementara di Paris dan beberapa negara liberal, komunitas mereka adalah independen dan bebas. Berciuman dan bermesraan di depan umum pun tidak dianggap suatu perbuatan memalukan. Ini akan membuat mahasiswa dari Indonesia merasakan shock culture (kekagetan budaya).
Selain itu dari pola makan juga mahasiswa Indonesia bisa merasakan shock culture (kekagetan budaya), contoh di Indonesia setiap hari makan dengan nasi namun ketika iya tinggal dan menempuh pendidikan di Paris, mahasiswa akan sulit menyesuaikan dengan menu makan yang ada di Paris, butuh waktu yang cukup lama untuk mahasiswa Indonesia beradaptasi dengan  menu makan yang ada di Paris.
Contoh lain culture Shock, perbedaan antar kota. Di kota Jakarta setiap hari mengalami kemacetan, terutama pada aktifitas jam kerja hari senin sampai jumat. Saat saya di kota Batam, saya hampir tidak sama sekali menemukan kemacetan, baik dari pagi hingga malam. Di kota batam pun banyak jual minuman berakhohol yang bisa banyak kita jumpai, seperti di mall dan supermarket. Beda hal nya dengan di Indonesia, minuman berakhohol sudah jarang di temukan di supermarket/mal.


Sumber  :
http://akarkangkung.blogspot.co.id/2016/03/culture-shock-kejutankekagetan-budaya.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar